Posts

Entri terakhir: untuk Yoana Vennezia

Image
Waktu itu tak berujung. Kita hidup di satu masa. Awalnya, lagu Akad oleh Payung Teduh terasa tidak relevan, setidaknya bagiku. Maksudnya, terlalu banyak muda-mudi kebelet nikah yang dengan sengaja meneriakkan lagu itu ke telinga orang. Memang, musiknya mudah didengar dan ringan. Tapi, kupikir liriknya tidak sekuat lagu Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan.

Tapi, hari ini, lagu Akad seperti tiba-tiba merasuki aku. Tapi, aku gak menye-menye; aku tidak kebelet nikah, aku tetap sama. Tapi, entah mengapa lirik yang ringan itu cocok untuk meningat kamu, Yo. Aransemen musiknya tidak menyedihkan, tapi menyenangkan. Mungkin, sudah seharusnya itu yang aku, Tane, Iki dan yang lain rasakan. Kami gak perlu sedih soal kepergianmu itu. Kami, seharusnya, mengingat hidupmu itu, Yo.

Hidupmu itu layak kami apresiasi setinggi-tingginya.

Kamu sudah bantu aku berubah. Tahu gak? Aku gak pernah nangis di pemakaman, Yo. Tapi, kemarin aku seperti tidak kenal siapa aku. Dinding dan tampilan tangguh yang kubu…

To my friend, Grace

I got the name from the Woodlanders. I named you after the character not because you look or act like her, but the name suits you well. By the way, I'm writing this letter just to say goodbye, I can't think of another way because I'm scared shitless and to be honest I don't know what to do. Anyway, it's hard to write a letter like this. Well, goodbyes aren't easy I think, but I just want to give it a shot.

First of all, I don't want you to get on the wrong foot, and I don't mean to give you flashbacks or something. I just had a long day and I thought of you. I thought of my mistakes. Then, I remembered how much of a friend I was or am. I was and probably still am not a good friend.
So, let's begin with our first contact. I remember I just broke up when you first contacted me. I was hurt. I told you to back off. Well, looking back I realized it wasn't the friendliest welcome, but I was trying.. not to hurt people by hurting them in the first plac…

Manusia Sok Kritis

Sudirman, 2016

Kemarin-kemarin, ada gadis yang dicibir
Alasannya sederhana, ya, kupikir begitu sederhana;
Hanya karena mengenakan baju ketat
Dan menonjolkan buah dada yang baru matang

Ah, kataku biarkan sajalah,
Kalian sok kritis, sok suci
Bagiku itu sebuah rejeki, ya, ya, rejeki
Rejeki yang bikin ereksi

Kali-kali boleh lah,
Apalagi ini buah dari surga yang baru matang
Mangga pun ketika baru matang rasanya nikmat sekali,
Begitu empuk dan berair

Yang lain juga ikut mencibir
Kali ini sepele, sepele sekali;
Hanya karena kawan gadis mengenakan rok ketat,
Menonjolkan lekukan pantat yang baru matang juga

Into the Citylight

Of God’s last ray of day; of God’s last ray of hope, Enters my mistress who lays upon a fiend’s dope, Of which he plays, from veins to throat, So does come my mistress, to shroud the districts
“Merry, be merry, my fellow man! Come to see what I offer ya! Worry not about your woman, For I have a spare for ya!”
So did he say, of a man who comes to prey Lonely men, whose hearts are rotten, Decayed, oh decay, did they, So did they came, to find and bed a dame
“Come one in, you bad mothers’ and drink our finest vino! Chug on ‘em until you smother, Just drink away your tales of sfortunato!”
Away I go from the man who shouts from a bar, Who was holding a bucket of ale, Chugs and chugging, “oh, wunderbar!” So I walk on, on and on, and I just keep on walking on
“God, o, dearest God of all! Be there light, the citylight!  Or shall I stop my squall?  So there I stop my might!”
And so I pray, I pray to God To lead me from the muddle that flows From above and which I now bowed, I walk and now I see, the light which God sent…

Anjing-anjing Dunia

Aku berkendara dan disalip seorang bapak
Ia bilang, "Mati kau, Anjing!"
Lalu tak lama aku menyalip seorang ibu,
Ia bilang, "Pakai otakmu, Anjing!"

Aku bingung, lalu berjalan dan bertemu seorang pemuda
Ia bilang, "Jalan pakai mata, Anjing!"
Aku makin bingung dan bertemu seorang gadis
Ia bilang, "Jaga matamu, Anjing!"

Akhirnya aku berjalan lagi
Berhenti di depan pengemis dan seekor anjing
Lelaki itu menunduk dan anjingnya menatapku
Ia bilang, "Recehnya, Tuan. Anjingku lapar."

Angin-angin Keparat

Angin malam menerjang tembok, menembus sela-sela kayu. Gubuk ini memang sudah tua dan angin menyentuh bagian bawah yang tidak tertutupi kain. Menggigil rasanya, tapi aku lega karena setelah dua jam, ada juga gubuk untuk buang hajat. Hingga aku sadar bahwa tak ada gayung. Anjing, bagaimana aku bisa pulang dengan sisa-sisa buangan? Ah, biar saja ku lap dengan kemeja dan pulang telanjang dada.

The Silence of Mirror

As the world falls silent,
You can hear your breath,
Your heart beats so loud.
So you start to think

Your head starts to hurt,
You barely know the face in the mirror,
It is not you, it's merely
A ghost in the real world

Popular posts from this blog

Manusia Sok Kritis

Entri terakhir: untuk Yoana Vennezia

Into the Citylight