Posts

Showing posts with the label Inggris

Entri terakhir: untuk Yoana Vennezia

Image
Waktu itu tak berujung. Kita hidup di satu masa. Awalnya, lagu Akad oleh Payung Teduh terasa tidak relevan, setidaknya bagiku. Maksudnya, terlalu banyak muda-mudi kebelet nikah yang dengan sengaja meneriakkan lagu itu ke telinga orang. Memang, musiknya mudah didengar dan ringan. Tapi, kupikir liriknya tidak sekuat lagu Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan. Tapi, hari ini, lagu Akad seperti tiba-tiba merasuki aku. Tapi, aku gak menye-menye; aku tidak kebelet nikah, aku tetap sama. Tapi, entah mengapa lirik yang ringan itu cocok untuk meningat kamu, Yo. Aransemen musiknya tidak menyedihkan, tapi menyenangkan. Mungkin, sudah seharusnya itu yang aku, Tane, Iki dan yang lain rasakan. Kami gak perlu sedih soal kepergianmu itu. Kami, seharusnya, mengingat hidupmu itu, Yo. Hidupmu itu layak kami apresiasi setinggi-tingginya. Kamu sudah bantu aku berubah. Tahu gak? Aku gak pernah nangis di pemakaman, Yo. Tapi, kemarin aku seperti tidak kenal siapa aku. Dinding dan tampilan tangguh ya...

Into the Citylight

Of God’s last ray of day; of God’s last ray of hope, Enters my mistress who lays upon a fiend’s dope, Of which he plays, from veins to throat, So does come my mistress, to shroud the districts “Merry, be merry, my fellow man! Come to see what I offer ya! Worry not about your woman, For I have a spare for ya!” So did he say, of a man who comes to prey Lonely men, whose hearts are rotten, Decayed, oh decay, did they, So did they came, to find and bed a dame “Come one in, you bad mothers’ and drink our finest vino! Chug on ‘em until you smother, Just drink away your tales of sfortunato!” Away I go from the man who shouts from a bar, Who was holding a bucket of ale, Chugs and chugging, “oh, wunderbar!” So I walk on, on and on, and I just keep on walking on “God, o, dearest God of all! Be there light, the citylight!  Or shall I stop my squall?  So there I stop my might!” And so I pray, I pray to God To lead me from the ...

My World

I feel no companionship, nor comfortable I cannot become one, with those who dwell together Alienated and exiled I bid the days goodbye, I cannot feel the time passing, My mind adrift My world, as you see, is built on the land of hate Blessed by foul anger, and blank faiths A corrupted yet incorruptible void, where cannot be touched by light Worms of horrid crawl through, Consuming its' own path The heart, now possessed, does not able to beat nor able to comprehend, reality and fantasy

Big Ben Punya Janji

Image
Gue yakin, setiap orang pernah merasakan yang namanya cinta pertama. Yaaa meski ceritanya belum tentu indah tapi pasti memorable. Beberapa pasangan pernah mengucapkan kata-kata yang terus diingat. Biasanya sih kisah cinta pertama terjadi di masa-masa indah, masa ketika kita masih menjadi anak polos, SD, SMP, dan mungkin ada juga yang di SMA. Jujur, otak gue bego dalam hitung-hitungan. Matematika, fisika, kimia dan segala jenisnya yang bikin gue bengek. Tapi setahu gue, gak ada ilmu fisika yang bisa mendefinisikan cinta, sama seperti apa yang Albert Einstein bilang; “No, this trick won't work... How on earth are you ever going to explain in terms of chemistry and physics so important a biological phenomenon as first love?”   Lalu kisah gue seperti apa? Kisah gue berawal di tahun 2009 silam. Kala itu, secara resmi seragam gue level up, dari warna putih-merah menjadi putih biru. Kesan hari pertama? AWKWARD! Gimana enggak? Pas pertama masuk ruangan, semuanya langsu...

Popular posts from this blog

As a Good Friend..

Big Ben Punya Janji

Manusia Sok Kritis